Cinta Kasih

Tuesday, April 12, 2011

~Hati Yang TerLuKa~Air MaTa Yg MeNiTis~


 Asslmkmwtb...Utk jiwa2 yg lara..

Dr. ‘Aidh Bin ‘Abdullah Al-Qarni

Tidakkah engkau lihat bahawa malam ini
Bila telah sempurna kegelapannya
Pasti akan datangnya pagi hari dengan cahayanya






Seorang penyair berkata: bila anda mengetahui bahawa sesungguhnya anda telah bersumpah demi waktu bahawa anda akan mendapatkan segala yang anda inginkan dalam segala urusan di setiap masa yang anda lalui. Lalu ia juga telah bersumpah akan memberikan apa jua yang anda sukai, maka pantas saja anda bersedih hati jika kehilangan setiap peluang yang tidak pernah tercapai.

Wahai Hatiku dengarlah...

Jika anda telah mengetahui tabiat pengambilan dan pengembalian, pemberian dan pencegahan yang dilakukan oleh hari-hari yang anda lalui dan bahawa hari-hari itu tidak pernah melupakan suatu anugerah yang telah diberikannya, melainkan ia akan kembali mengambilnya dari anda dan memang demikianlah ketentuan dan tabiat masa terhadap semua Bani Adam, baik bagi yang tinggal di dalam istana mahupun yang tinggal di rumah sederhana atau di kolong saja, baik bagi orang yang telah meraih puncak keberhasilannya mahupun bagi orang awam yang sederhana hidupnya, maka rendahkanlah nada kesedihan anda dan usaplah air mata anda. Kerana bukan hanya anda yang pertama kali terkena kesan racun zaman, dan musibah atas diri anda bukanlah yang pertama dan terakam dalam daftar musibah dan penderitaan.




Allah SWT berfirman:

“Adakah kamu menyangka bahawa kamu akan masuk syurga pada hal kamu belum didatangi ujian seperti yang dialami oleh orang dahulu. Mereka ditimpa kepapaan, penyakit dan ketakutan sehingga berkatalah rasul dan orang yang beriman bersamanya : “Bilakah akan datang pertolongan Allah ?” . Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah sangat dekat.”

                                                                                             (Surah Al-Baqarah: Ayat 214)


Ayuhlah hatiku yang terluka ubat saja dengan rasa redho dan qanaah...
Ayuh air mataku..jangan menitis lagi atas setiap kehilangan..Perdilah ke sudut jauh..rendamkan dendam..menjadi baja insaf..

Luruhkn saja hujan derita menjadi banjir kasih yang putih..Mengakulah pada diri dan berdamailah pada hati..
Biar saja sakit itu menjadi ‘kamu’yakni hatiku dan mereka yang sama sepertiku satu kelegaan yang tiada tolok tandingnya bila kamu labuhkan dahi di altar suci. Bila dahi sudah cecah sejadah maka lenyaikan semua derita itu agar gugur menjadi bibit cinta pdNya..





 C.I.N.T.A ADALAH ANUGRAH, PELIHARALAH IA SEMENTARA KITA MASIH MERASAI KEUJUDANNYA...

Sunday, April 10, 2011

..::.DaLaM ReNai HuJaN..::.



                                       **  BiLa ReSah BeRsEnNANdUNG RiNdU **




Dingin menyergap kala langit kan turunkan hujan
Hembusan angin kala itu

 seakan membawa kembali sejemput kerinduan
Kerinduan yang coba kutepiskan









Perlahan sang hujan basahi bumi manja..

Namun apalah daya, karena kuhanyalah seorang insan
terlanjur  menikmati harmoni alam ini
tengelam jua banjir kasih..
Seiring api harapan yang senantiasa terangi ruang hati
Bersamanya terus bergelora azam dalam diri

Hujan kini terhenti
tinggalkan tetes-tetes air diranting pepohonan
sekilas kulihat mawar merah dihalaman sana
ingin rasanya kupetik mawar merah yang indah nan menawan
'Tak kan kuucap Cinta itu..'

Namun sejenak ku berpikir…
Bukan..bukan hanya mawar merah
lebih dari itu, ingin kusertakan untukmu Al-qur’an dari mekah (sebelum ku ucap kalimat )..
yang kan iringi cinta ini kelak hingga merekah dan bersemi indah
dalam iringan ridho dan balutan barokah







apalah artinya mawar itu tanpa ikhlasmu?
apalah artinya mawar itu tanpa ikrar katamu?
apalah artinya mawar itu tanpa indah tatap matamu?
apalah artinya mawar itu tanpa hangatnya kasih sayangmu?

Kanda..belahan jiwa, mawar itu kan berarti dan nampak lebih indah dan mewangi
saat kau ada disisi untuk temani dan harungi hari
menggapai keridhoan dan barokah Ilahi Robbi…



Kerna agama adalah syarat cintaku..
Berqalamkan taqwa..
Bermaharkan syahadah..









C.I.N.T.A ADALAH ANUGRAH, PELIHARALAH IA SEMENTARA KITA MASIH MERASAI KEUJUDANNY

Monday, April 4, 2011

~Aku~



Asslmkmwtb.
Selamat malam..entry utk malam ni..rasanya ni je..sbb demam, batuk & flu ni.hu..hu..tersumbat semua..nak titun pu x lena...
Aku lah wanita itu..he..he.. tata..jumpa lagi esokkkk...

kata akhirku..maaf dan ampunkan aku seandainya sepanjang bsama kali aku terkasar bahasa tersilap kata..
TIdur ni adalah kematian kecil..yang aku amat risau akan mmbawa pd kematian besau..oleh itu...sebelm terlambat..maafkan aku...




C.I.N.T.A ADALAH ANUGRAH, PELIHARALAH IA SEMENTARA KITA MASIH MERASAI KEUJUDANNYA...

Saturday, April 2, 2011

~MaMa~



”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” QS. 17 : 23


 

Kudengar kokok ayam jantan di pagi buta. Saat sebahgian manusia masih terlelap dan sebahgian lainnya terjaga. Disepertiga malam kucoba untuk kembali bermuhassabah. Tentang cerita pada hari yang lalu, hari-hari yang penuh dosa dan amarah. Kubuka pintu kamar dan kulihat ibundaku tercinta sedang bersujud dengan mukena putih ditemani sajadah diruang keluarga, tempat biasanya dulu kita selalu berkumpul bersama untuk sekedar melepas lelah dan berbagi cerita. Segera kubergegas untuk melakukan thaharah. Lalu bersujud ditemani peluh airmata. Dalam sujudku teriring doa untuk mamaku yang sangat kucintai,,.

Selesai bermuhassabah, kuhampiri mamaku. Kuraih tangannya, seperti biasa lalu kuucapkan dengan lembut
“umi”.sambil kucium tangan yang begitu halus dan penuh kelembutan itu.
“dah azan sayang?” jawab mamaku penuh kelembutan dan sayang, pipinya tampak basah oleh airmata.

Terbayang wajah mama yang mulai menua ketika kumenelusuri jalan yang sepi di sudut kamarku.. Wajah yang begitu tabah, kadang kudengar ia sesengukan karena begitu berat beban yang dipikulnya. Senyum mamaku tercinta yang selalu mengembang. Karena cintanya yang begitu tulus kepada anak-anaknya tersayang. Mamaku adalah sumber mata air cinta dan semangat jiwa yang memnacar begitu deras didasar jiwa. Mengalir mengisi kekosongan dan menjadi tsunami yang luluhlantakan kesombongan waktu.

( masa kecilku ).Sesampainya dirumah kudapati sarapan sudah tersedia. Dan beberapa pekerjaan rumah yang memang harus dikerjakan sudah selesai terlaksana. Tak dapat kubayangkan betapa besar perjuangan mama, yang harus bangun pagi untuk menghadapNya lalu lakukan kewajiban sebagai seorang hamba. Senantiasa relasikan amal dengan ibadah. Maka selalu mengalir doa atasmu wahai mamaku tercinta.

Tak sengaja kubertanya

”mama tak penat ???”

”Tak sayang”, aku mngerling tubuh umi kan tidak sebugar dulu ketika masih muda. Lelah sangat ku ladani, Jadi semangat lagi. jawab mama tersenyum.
"yg utama adik harus jadi insan yg mulia, belajar, rajin solat dan habiskn Quraan tu sebelam datangnya Ramadhan..Ramadhan blh khatam lagi.." mama tersenyumm..
"nanti boleh mama masak pulut kuning lagi ya.." senyumku malu, bukn aku suka pun tapi nk ratah rendang ayam kampung yg mama buat tu..sedaaappp..


Karena hati wanita itu begitu tipis dan lembut, mudah terkoyak dan hancur.

“ma, insya Allah adik ingat selalu pesan mama, adik mohon doa dan restu mama...”

”doa dan restu umi selalu atas diri kalian.”

”terimakasih yah ma..” airmata ini sudah tak terbendung, lalu kuhanyut dalam dekapan mama Menangis sejadinya, begitu bersyukur atas karunia Allah yang dititipkan melalui kasih saying mama yang begitu luas tak terkira.

Mentari dhuha yang kini kembali hadir menyapa diri. Sinarnya yang begitu hangat, yang biaskan pelangi dari embun pagi. Yang membuat hari ini begitu berarti, karena Allah masih memberikan nafas. Setiap hembusan nafas yang merupakan kesempatan. Kesempatan untuk jalani hari, semata-mata untuk beribadah kepadaNya dan berbakti kepada kedua orang tua, ibu..ibu...ibu dan ayah. Kepada seorang wanita yang bermahkotakan Ibu, ikatan yang tak akan pernah pudar. Tautan antara darah dan akidah, dan Rahmat dari Allah, Sang Penguasa Semesta.

Kini semuanya sudah tiada, aku bagai dedalu menumpang kasih ibu yg bukan melahirkan tapi masih tulus dan murni menjadikan aku seorng anak..TQ GOD..


C.I.N.T.A ADALAH ANUGRAH, PELIHARALAH IA SEMENTARA KITA MASIH MERASAI KEUJUDANNYA...

~Biarkan SaJa DeRiTa Itu!~



Aku sudah serahkn cintaku padaNya, dalam tidur dan jagaku sudah ku tambatkan PadaNya dengan tanpa ragu dan aku damai kini..
Aku merasa resapan bahgia yang membetung dalam benakku sehingga aku bisa bangkit utk cinta ini.

.


Jauh sudah aku berjalan mngores mimpi mnganyam kenangan, kini aku harus kumpul semuanya,dlm sebuah peti ingatan,ku kunci,jaga jgn ada sawang dusta dan curang mnganggu..Itulah nilai kesetiaanku..
Sudah dua minggu dia pergi dan seminggu aku mngetahui..aku merasakn hari2ku penuh Tanya Tanya dan bagai mimpi..Rujuk pd waktu aku mnjadi tambah keliru dan rapuh..Atau aku harus biar saja rasa ini mngundang mendung..
Aku cuba mengisi hari-hariku dengan kepura-puraan,  aku ketawa, aku senyum dan aku berlari serta buat apa saja rutinku dan yg paling aku suka duduk di satu sudut yang sunyi..tanpa gangguan, itu paling indah padaku serta ziarah pusaranya kerana itu amat damai bagiku..

“Cantik dan ok dah gambar ni kat sini, apa pendapat u”

“Hah?? Macam ni cantik?? Mata u senget ke gambar ni tegak?”

“Loh..dah hamper satu jam i atur gambar ni dan satu tempat yg paling sesuai dengan bingkai dan mood potret monalisa melanau ni, hanya sudut ni yang tersesuai bagi M.e..”sungguh2je rupa dia bcakap..aku hnya mnecebik bibir..

“Macam ni..tengok baru Nampak sempurna wakk..he.he.” jari gatal ku menolak sedikit bingkai potretku menjadikn bingkai yg memang di akui sudah terletak cantik menjadi senget 35%, berkerut wajah abng, kerlinganku tepat pada dahinya yang berkerut dari tadi..pasti dia tahu aku mula cari onar. Kepalanya di sengetkan..spontan dia tersenyum seperti selalu..aku mula rasa rimas dan meluat..

“ooo, emm rupanya sudah cukup sempurna yag, x sangka senget ni betul2 abstrak erk.” Abng mula meledakkan bomm bahasanya..aku terkejut dengan jawapannya, aku fikir dia marah or tolak semula, sbb itulah yang aku mahu..tapi sebaliknya..eeeeeeeeee  geramnya..

Aku tinggalkan dia dengan buah ketawa yang mcm selalu..Sakit hati aku..Dia menang lagi..

‘Padan muka aku’..

Panas rasa mataku, aku seka rupanya air mataku tak pernah kering akhir2 ni walau pun hampir seminggu dah aku menangis macam orng tak betul.Bukan kehendakku..aku tak mau nanges..tak mau..tak mau.. tak mau..





Biarkn saja derita bertapak..

Aku harap satu masa ia bercambah menjadi pohon kenangan

Yg pastinya aku akan sentiasa berteduh di bawah,

Antara damai dan syahdu berbuah cinta..,.,


C.I.N.T.A ADALAH ANUGRAH, PELIHARALAH IA SEMENTARA KITA MASIH MERASAI KEUJUDANNYA...

Thursday, March 24, 2011

.::.RaTiP CiNTa.;;.


"ku kenali mu baru sekejap, 
tapi dalam sekejap itu aku mengenalimu"


                                 ** Ratip Cinta...**

                                            .::.(  Jodohhhhh)..::.





Jodoh seperti rezeki, ia telah ditentukan. Namun, kita tidak tahu apa yang telah ditentukan oleh Allah. Dengan berpegang pada hakikat itu kita diperintahkan-Nya agar berusaha. Carilah jodoh yang baik, carilah rezeki yang baik dengan jalan yang baik juga. Siapa jodoh kita? Berapa banyak rezeki kita? Dan bila? Itu bukan kerja kita. Itu ketentuan Allah. Milik kita hanya usaha. Jadi, berusahalah dengan baik, Allah pasti tidak akan mengecewakan kita. Wajib menerima takdir tidak menolak kewajiban untuk mentadbir.

Ini berlaku dengan abang sulung ku..Kami 5 beradik, 4 abng dan aku perempuan tunggal bongsu..Aku hanya terconggok mendengar cerita tentang mereka, paling menarik abng sulungku..

“Dulu saya tidak pernah melihat wajah bakal isteri saya,” kata abang yang sangat saya hormati.

“Pelik tu bang. Bagaimana jodoh abang diaturkan?”

“Ikut pilihan guru agama yang mengajar saya,” jawabnya pendek.

“Mengapa tidak mahu melihat wajahnya? Kan itu dibenarkan oleh syariat? Barangkali sebab waktu itu tidak ada ruangan sosial seperti Facebook dan Twitter?” gurau saya.

“Memang belum ada. Tetapi ada cara lain. Gambar dan cara-cara yang lain ada, tetapi sebenarnya ada sebab lain…”
Berkerut keningku..tersimpul sejuta Tanya di benakku..

Dalam diam, saya rasa hairan. Wajahnya saya tenung. Dia orang yang sangat saya hormati. Sahsiah  sangat menawan hati. Tentu ada sebab yang solid untuk dia bersikap demikian.

“Abang pernah menjalin hubungan cinta. Dia teman lama sejak di sekolah rendah lagi,” jelasnya dengan tenang.

“Habis mengapa putus?”

“Kami putus kerana dia ada jalan tersendiri. Jadi kami berpisah setelah 12 tahun bercinta.”

Wah, ini kisah cinta yang dramatik! Saya tidak sangka sama sekali dia yang selama ini kelihatan begitu iltizam, tegas dan berwibawa pernah melalui tragedi cinta.


                                     ** Isteri Amanah **




“Itu kisah sebelumnya. Tetapi bagaimana dengan kisah pertemuan dengan isteri abang sekarang?” kata saya beralih kepada maksud asal pertanyaan.

“Setelah putus, abang terus minta abah dab mama saja carikan jodoh. Tak mau pening kepala diganggu gugat lagi oleh emosi cinta, fobia ”

“Tetapi mengapa abang tidak mahu melihat bakal isteri pilihan mama?”

“Itu keputusan personal abng.. Mahu melihat dulu, silakan. Tidak mahu, tidak mengapa.”

“Dan abang memilih untuk tidak melihat. Kenapa?”

“Eh, kamu masih tegar dengan soalan asal? Begini, bekas kekasih abang dulu sangat cantik. Abang takut perasaan abang diganggu oleh godaan perbandingan. Takut-takut, bakal isteri tidak secantik kekasih lama. Jadi abang tekad, nikah terus tanpa melihat wajahnya.”

Saya terkesima sebentar dan dengan pantas saya bertanya kembali, “Tetapi abang akan terpaksa juga membuat perbandingan setelah bernikah bukan? Setelah nikah, abang akan melihat wajahnya. Dan ketika itu mahu tak mahu godaan perbandingan akan datang juga.”

Sekali lagi dia senyum. Matanya bersinar-sinar dengan keyakinan. Jauh di lubuk hati, saya mengakui, dia memang bercakap dari hatinya.

“Amat jauh bezanya antara membandingkan wanita lain dengan bakal wanita yang akan kita nikahi dengan wanita yang telah kita nikahi…”

Pendek dia menjawabnya, namun terus menusuk ke hati saya. Tanpa saya pinta dia menyambung, “Apabila seorang wanita telah kita nikahi dengan sah, dialah wanita yang diamanahkan oleh Allah untuk kita bimbing dan pimpin menuju syurga. Nasib kita dunia dan akhirat sangat berkait rapat dengannya. Dia adalah jodoh yang ditakdirkan buat kita. Dialah wanita yang pasrah dan menyerah kepada kita atas nama Allah. Pada waktu itu, bagaimanapun keadaan wajahnya, siapa pun dia, sudah menjadi soal kedua.”


                                
** Cantik Itu Relatif dan Subjektif **




“Abang tidak takut, kalau tiba-tiba wajah atau keadaannya tidak serasi dengan cita rasa abang? Maksudnya, er… er… kita masih manusia bukan?” saya menduga hatinya.

Dia ketawa tiba-tiba.

“Ya, kita masih manusia. Tetapi kita bukan sekadar manusia. Kita hamba Allah dan khalifah. Isteri ialah teman kita untuk memikul amanah dua misi berat itu. Untuk melaksanakannya, kita bukan hanya perlukan kecantikan seorang wanita, tetapi ilmunya, akhlaknya, sifat pengorbanannya dan kesetiaannya.”

“Jadi, untuk itu kecantikan tidak penting?”

“Semua yang datang daripada Allah ada kebaikannya. Namun ingat, Allah lebih tahu apa yang baik untuk kita berbanding kita sendiri. Sesiapa yang tekad menjadi hamba Allah dan khalifah, pasti tidak akan dikecewakan-Nya. Orang yang baik berhak mendapat yang baik, bukan begitu?”

“Bukan yang cantik?” jolok saya lagi.

“Cantik itu relatif dan sangat subjektif. Beauty is in the eye of the beholder, bukankah begitu? Cita rasa manusia tentang kecantikan tidak sama. Malah ia juga berubah-ubah mengikut masa, usia dan keadaan. Tetapi yang baik itu mutlak dan lebih kekal sifatnya,” balasnya dengan yakin.

“Maksud abang?”
Dia diam. Termenung sebentar. Mungkin mencari-cari bahasa kata untuk menterjermahkan bahasa rasa.

“Kecantikan seorang wanita tidak sama tafsirannya. Orang budiman dan beriman, menilai kecantikan kepada budi dan akhlak. Pemuja hedonisme dan materialisme hanya fokus kepada kecantikan wajah dan daya tarikan seksual.”

Ketika saya ingin menyampuk, dia menambah lagi, “Cantik juga relatif mengikut keadaan. Jelitawan sekalipun akan nampak hodoh dan membosankan apabila asyik marah-marah dan merampus. Sebaliknya, wanita yang sederhana sahaja wajahnya akan nampak manis apabila sentiasa tersenyum, sedia membantu dan memahami hati suami.”

“Oh, betul juga tu!” kata saya. Teringat betapa ada seorang kenalan yang sering mengeluh tentang isterinya, “Sedap di mata tetapi sakit di hati…”


                                   
** Wasilah Memilih Jodoh **


“Bagaimana sebaik selepas berkahwin? Tak terkilan?” ujar saya dengan soalan nakal.

“Memang dari segi kecantikan, isteri abang sekarang biasa-biasa sahaja.”

“Maksudnya yang dulu lebih cantik?”

“Kamu ni, fikirannya masih berkisar dan berlegar-legar di situ juga. Ingat, yang biasa-biasa akan jadi luar biasa cantik apabila makin lama kita bersama dengannya. Itulah pengalaman abang. Hari ke hari, kecantikan isteri semakin terserlah. Entahlah, apa yang Allah ubah. Wajah itu atau hati ini?”

Wah, dia seakan berfalsafah! Kata-katanya punya maksud yang tersirat.

“Apa kaitannya dengan hati?” layan lagi. Ingin saya terus mencungkil mutiara hikmah daripadanya.

“Kalau hati kita indah, kita akan sentiasa melihat keindahan. Sebaliknya kalau hati rosak, keindahan tidak akan ketara, sekalipun sudah tampak di depan mata. Atau kita mungkin akan mudah bosan dengan apa yang ada lalu mula mencari lagi. Percayalah, orang yang rosak hatinya akan menjadi pemburu kecantikan yang fatamorgana!”

‘Ah, tentu dia bahagia kini!’ bisik hati saya sendiri.

“Apa panduan abang jika semua ini ingin saya tuliskan?”

“Pilihlah jodoh dengan dua cara. Pertama, jadilah orang yang baik. Insya-Allah, kita akan mendapat jodoh yang baik. Kedua, ikutlah pilihan orang yang baik. Orang yang baik akan memilih yang baik untuk jadi pasangan hidup kita.”


                     ** Jadi Orang Baik dan Pilihan Orang Baik?? **

“Tapi bang, ramai yang menolak kaedah kedua. Kata mereka, mana mungkin kita menyerahkan hak kita memilih jodoh sendiri kepada ibu bapa, guru atau individu-individu lain sekalipun mereka orang yang baik-baik.”



“Tak mengapa. Kalau begitu, guna cara pertama, jadilah orang yang baik.”

“Itu susah bang. Bukan mudah hendak menjadi orang yang baik. Ia satu proses yang panjang dan sukar menentukan apakah kita sudah jadi orang yang baik atau belum.”

Abang tersenyum lantas berkata, “Kamu menyoal bagi pihak orang lain bukan?”

Saya diam. Dalam senyap saya akui, inilah soalan yang sering diajukan oleh para remaja di luar sana. Dan aku?? Yg masih single mingle..ehekkk..

“Kedua-dua cara itu boleh dijalankan serentak. Maksudnya, jika kita berusaha menjadi orang yang baik, insya-Allah, Allah akan kurniakan kita jodoh yang baik melalui pilihan orang baik. Ataupun kita berusaha menjadi orang yang baik sambil mencari orang yang baik sebagai jodoh, dan nanti pilihan kita itu direstui oleh orang yang baik!”

Wah, kedengaran berbelit-belit ayatnya, namun jika diamati ada kebenarannya.

“Tetapi ada juga mereka yang menolak pilihan orang yang baik bukan?”

“Kerana mereka bukan orang baik,” jawabnya pendek.

“Bukan, bukan begitu. Bolehkah terjadi orang baik menolak pilihan orang yang baik?”

“Ya, tidak mengapa. Tetapi mereka tetap menolaknya dengan cara yang baik. Itulah yang terjadi kepada seorang wanita yang bertanyakan haknya untuk menerima atau menolak jodoh yang dipilih oleh ibu bapanya kepada Rasulullah s.a.w.”

“Apa hikmah di sebalik kisah itu bang?”

“Kita boleh melihat persoalan ini dari dua dimensi. Pertama, mungkin ada anak-anak yang tidak baik menolak pilihan ibu bapa yang baik. Hikmahnya, Allah tidak mengizinkan orang yang baik menjadi pasangan orang yang tidak baik. Bukankah Allah telah berjanji, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik dan begitulah sebaliknya?”

Saya terdiam. Benar-benar tenggelam dalam fikiran yang mendalam dengan luahan hikmah itu.

                                   ** Jodoh Urusan Allah **





“Dan mungkin juga anak itu orang baik tetapi ibu bapanya yang tidak baik itu memilih calon yang tidak baik sebagai pasangannya. Maka pada waktu itu syariat membenarkan si anak menolak pilihan ibu bapanya. Ya, itulah kaedah Allah untuk menyelamatkan orang baik daripada mendapat pasangan hidup yang jahat.” –( blh tahan jugak abng aku ni, mcm ustaz pulak, ngalahkn aku yg lulus mesiq ni..weikk.),

“Bagaimana pula jika anak itu baik, dan ibu bapanya pun baik serta calon pilihan ibu bapanya juga baik, tetapi urusan pernikahan masih terbengkalai. Apa maknanya?” tanya saya inginkan penjelasan muktamad.

“Itulah takdir! Mungkin Allah menentukan ‘orang baik’ lain sebagai jodohnya. Sementara orang baik yang dicadangkan itu telah Allah tentukan dengan orang baik yang lain pula!”

Tiba-tiba saya teringat bagaimana Hafsah yang dicadangkan untuk menjadi calon isteri Sayidina Abu Bakar oleh ayahnya Sayidina Umar tetapi ditolak. Akhir Hafsah bernikah dengan Rasulullah s.a.w. Kebaikan sentiasa berlegar-legar dalam kalangan orang yang baik!

“Jodoh itu urusan Allah. Sudah dicatat sejak azali lagi. Tetapi prinsipnya tetap satu dan satu itulah yang wajib kita fahami. Orang yang baik berhak mendapat jodoh yang baik. Cuma sekali-sekala sahaja Allah menguji orang yang baik mendapat pasangan hidup yang jahat seperti Nabi Lut mendapat isteri yang jahat dan Asiyah yang bersuamikan Firaun laknatullah.”

“Apa hikmahnya kes yang berlaku sekali-sekala seperti itu?”

“Eh, abang bukan pakar hikmah! Tetapi mungkin Allah hendak meninggikan lagi darjah dan darjat orang baik ke tahap yang lebih tinggi.”




Adehhh....mcm hindustan pulak, apapun sekedar hiasan..
“Hikmah untuk kita?”

“Jika takdirnya pahit untuk kita, terimalah sebagai ubat. Katalah, kita sudah berusaha menjadi orang yang baik dan kita telah pun bernikah dengan pilihan orang yang baik, tetapi jika takdirnya pasangan kita bermasalah… bersabarlah. Katakan pada diri bahawa itulah jalan yang ditentukan oleh Allah untuk kita mendapat syurga. Maka rebutlah pahala sabar dan redha seperti Nabi Lut dan Nabi Ayyub atau kesabaran seorang isteri bernama Siti Asiah.”

Tok, tok, tok. Tiba-tiba pintu bilik tulis saya diketuk. Wajah watak “abang bayangan” saya pergi tiba-tiba. Tersedar saya daripada lamunan yang panjang. Bibik berdiri dgn segelas susu panas di sebalik pintu. Sebalik melihatnya terdetak dalam hati sendiri, apakah aku telah menjadi insan yang baik untuk menjadi wanita pilihan seorng suami?,

Ah, hati dilanda bimbang mengingatkan makna satu ungkapan yang pernah abng ingatkn pdku: “Yang penting bukan siapa suamimu semasa kau dinikahinya, tetapi siapa dia setelah menikah denganmu. JAdi, janji Allah tentang lelaki yang baik untuk wanita yang baik bukan hanya berlaku pada awal pernikahan, tetapi di pertengahannya, penghujungnya malah sepanjang jalan menuju syurga!”

Aku merenung saja segelas susu suam di mejaku..Dan aku kini segalanya ada status, kemewahan, agama dan satunya aku tak punya. Aku masih tidak mmpunyaiIMAM ‘...

C.I.N.T.A ADALAH ANUGRAH, PELIHARALAH IA SEMENTARA KITA MASIH MERASAI KEUJUDANNYA...