Wednesday, May 4, 2011

~Selangka Gurindam Jiwa~


Cinta itu bak misteri. Manusia kadang tidak mudah mengerti. Banyak kehairanan yang terukir di dalamnya. Tak merasuk dan mengaduk isi intinya, manusia akan terlalu sibuk mendulang kulitnya.
Alam dan pengalaman acapkali memberikan gambaran. Ada tiga hal yang menghairankan dan satu hal sebagai kesimpulan.  



Berjejak tapi x bertapak...

Pertama, jalan rajawali di udara.  
Kedua, jalan ular di atas cadas.  
Ketiga, jalan kapal di tengah-tengah lautan.  
Penghujung dari ketiga hal itu adalah jalan seorang laki-laki dengan seorang perempuan.
Kita semua tidak pernah akan tahu jalan mereka. Tiada bekas yg boleh ditelusuri, tiada jejak yang bisa diendus, tiada tanda yang bisa diraba. Namun, mereka dapat menelusurinya dan bisa sampai pada tujuannya. Sungguh, sangat menghairankan!


mau terbang mencari syng

Kehairanan ini makin menyembul, ketika seorang lelaki dan perempuan saling memilih untuk menjadi pasangan hidup. Pernahkan kita bertanya, “Adush bagaimana ya, saya jatuh cinta dengan dia?” Melihat senyumnya, terbayang-bayang. Fikiran menjadi melayang. Tidur pun serasa TAK tenang. Lantas, muncul satu dari sejuta pilihan: ingin bertunangan dan segera disatukan dalam perkawinan.
Itulah tiga hal yang menghairankan dan berpuncak pada cinta lawan jenis yang susah dimengerti otak. Ke mana kita mesti mencari? Manakala kita mencoba membelai hati untuk duduk diam di hadapan Sang Ilahi, kiranya ada secercah sinar terang. Inikah sebuah cinta yang ditanamkan oleh Sang Cinta Ilahi sejak manusia tercipta?
Kalau demikian adanya, menguak misteri sebuah cinta bertumpu pada sebuah benih. Sang Cinta telah menabur, menumbuhkan, pun pula memelihara. Manusia tersemai dalam partisipasi kerja-Nya. Maka, tumbuh atau mati benih cinta itu akan sangat tergantung pada relasi abadi antara manusia dengan Sang Cinta.
Di sinilah misteri cinta mewujud dalam realiti dan tercecap manis dirasa, ketika Sang Cinta Ilahi hadir dan berkarya. Dalam suka, Sang Cinta membangkitkan gairah untuk berjalan terus menuju kemuliaan sejati. Dalam duka, Sang Cinta rela berkorban untuk meneguhkan, agar tak terpisahkan. Bersama Dia segalanya terlewati dengan indah berseri.
Lalu tercantuk setiap rasa mohon tiada kemurkaan dari yg maha Esa..di mudah serta di redhai membentuk mehnahNya...

**Maaf..epilog dan gurindam yg tidak sempurna...**

C.I.N.T.A ADALAH ANUGRAH, PELIHARALAH IA SEMENTARA KITA MASIH MERASAI KEUJUDANNYA...

No comments:

Post a Comment